Make your own free website on Tripod.com

Menulusuri jejak Sunnah - Firqotun Najiyah

Syekh Abdullah bin Baz
Home | Thibbun An Nabawi | Link | Mengenal Ulama | Artikel Umum | Referensi | Aqidah | Firqah baru | Fiqih | Hadits | Sejarah | Sholat Kita | Informasi

Sekilas kisah Syekh Abdullah bin Baz
 
Diceritakan oleh Syaikh Abdul`Aziz As-Sad-haan: Tentang katajaman ingatan
Syaikh (bin Baz), aku pernah suatu kali menanyakan kepada beliau dalam
sebuah pelajaran ;Wahai Syaikh, sebuah hadits yg disebutkan oleh Al-Hafizh
(Ibnu Hajar) pada Bulughul Maram yaitu -ni`amul ajru yu'khazu `alal
qur'an- ...dan aku terdiam,

lalu beliau berkata: "Hadits itu tidak ada di Bulughul Maram"

Aku menjawab: "Wahai Syaikh, aku membacanya di Bulughul Maram"

Beliau mulai berpikir, kemudian berkata:"Hadits itu tidak ada di Bulughul
Maram"

Maka salah seorang dari teman2 mengisyaratkan bahwa Syaikh tetap pada
pendiriannya.
Maka aku menjawab:"Wahai Syaikh, aku telah membacanya"

Beliau berkata:"Bawalah Bulughul Maram olehmu besok", dan jadwal pelajaran
tsb jatuh pada hari kamis.

Maka aku membuka halaman2 kitab Bulughul Maram, halaman demi halaman,
tetapi tetap tidak mendapatkannya. Dan setelah beberapa lama, kira-kira
seingatku setelah 4 atau 5 bulan, aku menemukan hadits tsb di Bulughul
Maram, maka aku menemui Syaikh dan berkata:"Wahai Syaikh, semoga Allah
memperbaiki urusan anda, waktu itu aku pernah menanyakan kpd anda tentang
sebuah hadits yg aku katakan kpd anda bahwa hadits tsb ada di Bulughul
Maram, tapi anda menyangkalnya, dan sekarang aku menemukannya"

Maka beliau berkata:"Bacakanlah!"

Maka aku membacanya:"Riwayat dari Abu Sa'id Al Khudri -radhiyallahu`anhu-
berkata, Rasulullah shalallahu`alayhi wasallam bersabda: Inna ahaqqa maa
akhadztum `alayhi ajran kitaaballah"

Beliau berkata:"Benar, tapi yang waktu itu kau tanyakan adalah hadits yg
(matan-nya) berbunyi -ni`amul ajru yu'khazu `alal qur'an-, hadits tsb ada
pada Shahih Bukhari"

[Al-Imam Ibn Baz - durus wa mawaqif wa i`bar - p.233]
===========================


Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Baz (saudara kandung Syaikh bin Baz)
menjelaskan ; bahwa Syaikh Abdul`Aziz bin `Abdullah bin Baz selalu menjaga
tali persaudaraan dengannya dan dengan orang tuanya sejak beliau masih muda.
Beliau selalu rutin mengunjunginya dan menanyakan keadaannya dan biasa
mencium keningnya ketika beliau tinggal di wilayah Al-Badi'ah Al-Qadimah
di Riyadh.

Dan beliau selalu menanyakan anak-anakku dan menganjurkan anak-anaknya
untuk mengunjungiku (Syaikh Muhammad), Semoga Allah merahmati Abu Abdullah.

Sejak beliau masih muda beliau sangat mencintai ilmu dan ulama dan selalu
dermawan kpd mereka, misalnya beliau selalu meminta lebih kepada ibu kami
-rahimahallah- ketika makan siang dan makan malam agar beliau bisa
membawanya untuk saudara-saudaranya (dlm islam) diantara para penuntut ilmu.

Dan ketika itu kami masih muda, dan sering dikatakan kpd beliau "Kenapa
engkau rutin melakukan itu?", dan beliau -rahimahullah- menjawab: "Sungguh
Allah Maha Pengasih dan Dia akan memudahkan urusan kita dalam taqdir"

[Mawaqif madhi-ah fiy hayatil Imam `Abdul`Aziz bin Baz - p.12-13]
===========================


Abdullah bin Muhammad Al-Mu'taz menceritakan : Syaikh Muhammad Hamid yg
merupakan presiden Ashabul Yaman di Eritrea berkata : Aku tiba di Riyadh
pada suatu malam yg dingin, dan tidak memiliki uang untuk menginap di
hotel. Maka aku berpikir untuk pergi ke rumah Syaikh Abdul Aziz bin Baz,
aku ragu-ragu karena saat itu jam 3 dinihari, tapi aku memutuskan untuk
tetap pergi (ke rumah Syaikh bin Baz).
Aku tiba diluar rumahnya yg sederhana dan mendapatkan seseorang sedang
tidur  digerbangnya.  Ketika terbangun dia membukakan gerbang untukku dan
aku menyampaikan salam kepadanya dengan suara yg sangat pelan agar tidak
terdengar oleh orang lain karena saat itu malam sudah sangat larut.
Tidak lama kemudian, aku melihat Syaikh (bin Baz) seorang diri turun dari
tangga sambil membawa sebuah nampan berisi makanan, beliau menyampaikan
salam kpd ku dan memberikan makanan tsb pada ku dan berkata :"Aku
mendengar suaramu dan membawakan makanan ini untukmu, mungkin kau belum
makan malam ini"
Demi Allah, aku tidak bisa tidur (semalaman) karena menangis mengingat
akhlaq yg sangat mulia seperti itu.

[Mawaqif madhi-ah fiy hayatil Imam `Abdul`Aziz bin Baz - p.233]
===========================


Doktor Nasir bin Misfir Az-Zahrani menceritakan : Syaikh Abdurrahman bin
`Atiq sbg orang yg bertanggung jawab atas urusan keuangan Syaikh (bin Baz)
pernah ditanya : Pernahkah Syaikh (bin Baz) menanyakan ttg gajinya? dan
kapan itu dibayarkan? atau kapan itu digunakan? atau sesuatu hal ttg itu?
dan pernahkah beliau menanyakan kpd anda ttg berapa jumlah gaji beliau ?
Syaikh (Abdurrahman bin `Atiq) menjawab : "Demi Allah! beliau tidak pernah
bertanya kpd ku ttg hal itu, bahkan beliau menanyakan gaji orang lain
untuk mengingatkan jangan sampai telat dibayarkan"

[Mawaqif madhi-ah fiy hayatil Imam `Abdul`Aziz bin Baz - p.233]
===========================


Abdurrahman bin Muhammad Al-Baddah  menceritakan : Diceritakan bahwa
Syaikh (bin Baz) berbeda pendapat dengan salah satu Syaikh dari luar Arab
Saudi dalam beberapa masalah. Kamudian Syaikh tsb datang ke Arab Saudi dan
Syaikh ibn Baz mengundangnya untuk makan siang dirumah beliau dan
memuliakannya. Ketika sedang berkumpul, beberapa murid berkata kpd Syaikh
bin Baz "orang ini (tamu tsb) begini dan begitu dan berkata ini itu ttg
Anda", kemudian Syaikh mengisyaratkan kpd mereka untuk diam.
Beliau meneruskan memuliakan tamunya itu, dan pada akhir pertemuan Syaikh
bin Baz mengantarkannya sampai ke depan pintu dan menyampaikan selamat
jalan. Lalu tamunya (Syaikh dari luar Arab Saudi itu) berkata : "Jika
dikatakan kepadaku ada seseorang dimuka bumi ini yang termasuk salafush
shalih, tentu aku akan mengatakan bahwa orang itu adalah beliau (Syaikh
bin Baz)

[Mawaqif madhi-ah fiy hayatil Imam `Abdul`Aziz bin Baz - p.188]
===========================


Shalih bin Rasyid Al-Huwaymil menceritakan dari seseorang yang dapat
dipercaya ; bahwa suatu hari, salah seorang yg menunaikan haji yg berasal
dari Soviet mendatangi tempat Syaikh (bin Baz) di Mina, dan ketika dia
melihat beliau dia berkata : "Apakah anda Syaikh Abdul`Aziz bin Baz ?"
Dan Syaikh menjawab dengan rendah hati "Ya, saya Abdul`Aziz bin Baz"
Maka orang itu menyampaikan salam dan memeluk beliau dan mencium
keningnya, dan berkata :"Demi Allah, aku selalu berdo'a kpd Allah agar
tidak mematikan aku sebelum aku berjumpa dgn anda"

[Mawaqif madhi-ah fiy hayatil Imam `Abdul`Aziz bin Baz - p.12-13]
===========================


Dr Muhammad bin Sa'd  Ash-Shuway'ir menceritakan: Ketika haji tahun 1406H
(1986M) rombongan haji pertama datang ke Arab Saudi dari komunitas China,
dan bersamaan dgn rombongan ini datang beberapa ulama yang mengunjungi
Syaikh Abdul`Aziz bin Baz untuk menyampaikan salam kepada beliau. Ketua
rombongan tsb adalah orang yg sudah sangat tua yang pernah belajar di
Al-Azhar. Dia mengepalai rombongan ulama itu yang berjumlah tujuh orang,
untuk memberikan salam kepada Syaikh bin Baz. Setelah menyampaikan salam
mereka kepada orang yg berkumpul disitu, ketua rombongan itu mendatangiku
dan bertanya :
"Dimana Syaikh Abdul`Aziz bin Baz, dan kapan beliau akan datang?",

maka aku berkata kpdnya: "Itu, beliau salah satu diantara orang2 yg anda
sampaikan salam tadi",

tapi orang tua itu tidak mempercayaiku, dan berkata dgn bahasa arab yg
fasih mengatakan: "Aku ingin menemuinya sekarang"

Maka aku berkata kpdnya: "Itu beliau" menunjuk dgn jelas kepada beliau
(Syaikh bin Baz).

Maka dia berdiri dan memperkenalkan dirinya beberapa saat sebelum Syaikh
bin Baz untuk menghormati beliau.
Kemudian aku memberitahukan kpd Syaikh tentang hasrat orang tua itu (untuk
berjumpa dgn Syaikh), maka Syaikh berdiri dan memeluknya. Aku melihat
orang tua dari china itu dengan penuh kasih sayang bersandar di dada
Syaikh sambil menangis dan berkata: "Segala puji kepada Dzat Yang telah
mengizinkanku untuk berjumpa dgn anda, kami sering mendengar tentang anda
ketika di china, bahwa anda memberikan harapan kpd kaum muslimin dan
menyemangati mereka"

Kamudian salah seorang rekannya berkata (kpd Syaikh bin Baz): "Berdoalah
kpd Allah wahai Syaikh, agar Dia mengambil 10 tahun dari umurku untuk
menambahkan kpd umur anda, agar anda dapat memberikan manfaat kpd Islam
dan kaumnya, sedangkan aku hanyalah seorang biasa seperti orang lain dari
kalangan anak2 muslimin"

Kemudian orang tua dari china itu mulai menangis sedalam-dalamnya dan
kembali memeluk beliau (Syaikh bin Baz) dan mengulang perkataannya:
"Segala puji bagi Dzat Yang telah mengizinkan aku berjumpa dgn anda
sebelum kematianku, karena aku telah menunggu lama untuk kesempatan ini
sepanjang hidupku"

[Mawaqif madhi-ah fiy hayatil Imam `Abdul`Aziz bin Baz - p.8-9]
===========================


diterjemahkan bebas dari www.fatwa-online.com

Jika anda melihat kebenaran didalamnya, maka pujilah Allah tabaraka wata`ala dan jika anda mendapati kebalikanya ,saya  berharap anda berkenan menegur saya,serta berikanlah doŽa kebaikan untuk saya, semoga Allah meluruskan kesalahan saya dan mengampuni keteledoran saya... !!
kritik + saran: loper_kor4n@yahoo.com  Last update ,25 november 2010
Terhitung sejak,16 April 2005 anda pengunjung yang ke: